Selamat Natal
Tadi malam tubuh Gereja itu berkhotbah padaku
Natal itu bukan sepatu, celana dan baju baru,
Natal itu bukan pohon terang dengan hiasan cemerlang,
Natal itu bukan Santa Clause yang bagi hadiah sambil tertawa malas,
Natal itu bukan pesta dengan kue kue dan minuman beraneka rasa,
Natal itu adalah harinya jiwa kita rayakan kemenangan
karena maut sudah dengan telak terkalahkan.
Khotbah si gereja di tanggapi serius oleh dentang lonceng Gereja
“khotbahmu kurang kuat” katanya, sembari bersabda tentang makna Natal
;Bahwa kegelapan sudah sangat kelam menutupi bumi,
yang mampu meneranginya adalah natal atau seorang cahaya berkat
yang mungil dan terbit dari rahim seorang dara.
;Bahwa bau amis dosa begitu menyengat di relung hidung kita
dan yang mampu melenyapkannya adalah Natal atau
aroma mukjizat dan pengharapan dari dalam palungan
berselimut lampin di sebuah kandang binatang hina.
Lalu, aku berpendapat di hadapan mereka
ya, kalian tak ada yang salah atau lemah,
sedikit tambahan dari anak manusia
;Natal itu adalah Cinta kasih abadi yang menjelma anak manusia.
Aku, Pantai
Aku, panti kecil
tempatmu sandarkan hati,
bersihkan luka,
istirahatkan air mata
setelah lelah
terjang badai asmara
yang sematkan duka
Lalu, kau kembali
layarkan hati
arungi lautan rasa
berkemudi intuisi
tinggalkan pilu
kenang singgahmu
yang pasang harap
kau sandar lagi
sesekali di pantai kecil ini
Istirahat
Ketika tengah hari, waktu, kita bengkalaikan di meja kerja,
tuk’ melahap sejumput racikan tenaga rumah makan sekedarnya.
setelah itu, kita berhamburan ke remang parkiran bawah
melarikan akal, fisik sekaligus hati
dari rumitnitas yang enggan berhenti memburu hampir setiap hari.
Di sana, kita seolah menjelma siswa siswa menengah pertama
yang ramai ramai lepaskan rencana setengah gila,
menggarap berbagai ukuran tubuh wanita kantoran
yang lalu lalang dengan dandanan menyolok mata,
rok sedikit nakal, dan blazer molek ala metropolitan.
Rencana itu, memancing berbagai macam bentuk tawa
yang terkadang mengundang tawa pula.
hingga kita lupa desakan pacar, tuntutan istri,
rongrongan buah hati, tumpukan dokumen,
celaan para atasan, dan himpitan ekonomi
lupakan belati di belakang pinggang
pewakil benak kita melawan itu semua.
Di sana, kita menjadi anak manusia biasa
bebas, mukimkan sejuta gaduh yang nyaris busuk di dada
campur asap rokok, limbah knalpot, dan hawa sesak jakarta
ya di sana! di parkiran bawah,
kita adalah anak manusia, meski hanya sementara!
Eljoe
Lelaki besar jenaka yang bersahabat dengan susah
tahunan, membungkus jakarta bekasi, jakarta sukabumi
entah demi harga diri, entah sekedar trendi
tanpa sadar terkontaminasi wabah bersejarah
hingga ia mabuk sekumpulan infeksi
Tersadar, ia telah mengecil digerusi gejala sang wabah
yang perlahan ciderakan kekebalan tubuhnya
paksa nasibnya rebahkan mimpi di ranjang stigma
;Menular, rapuh, terkutuk, terasingkan nyawanya
Lelaki hitam, sahabat yang besar jenaka
harus menyerah pada virus sengsara
pengecil tubuhnya, peluruh umurnya
ke dalam kenangan air mata kawan dan ibunda
yang satu persatu jatuh di atas pusara
;Rumah jasadnya punggungi belulang ayah tercinta
Tetap tersesat di jalur Metal
Aku yang berhasrat
dosa, jalan hidup berubah
biadab adalah aliran darah
isi kepala ayat ayat keparat
bersimpangan dengan kalian semua
yang hendak bentuk dunia
tanpa selingan dan bersahabat
Sana, lakukan saja!
tanpa aku, pewabah mengecewakan
yang selamanya sesat
martir di paham kebebasan
-
Arsip
- Desember 2008 (11)
- November 2008 (12)
- Oktober 2008 (15)
- September 2008 (15)
- Agustus 2008 (16)
- Juli 2008 (25)
- Juni 2008 (17)
- Mei 2008 (25)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS