Aneze’s Hatred

This is my Hate, My Precious, Mine

Istirahat

Ketika tengah hari, waktu, kita bengkalaikan di meja kerja,
tuk’ melahap sejumput racikan tenaga rumah makan sekedarnya.
setelah itu, kita berhamburan ke remang parkiran bawah
melarikan akal, fisik sekaligus hati
dari rumitnitas yang enggan berhenti memburu hampir setiap hari.

Di sana, kita seolah menjelma siswa siswa menengah pertama
yang ramai ramai lepaskan rencana setengah gila,
menggarap berbagai ukuran tubuh wanita kantoran
yang lalu lalang dengan dandanan menyolok mata,
rok sedikit nakal, dan blazer molek ala metropolitan.

Rencana itu, memancing berbagai macam bentuk tawa
yang terkadang mengundang tawa pula.
hingga kita lupa desakan pacar, tuntutan istri,
rongrongan buah hati, tumpukan dokumen,
celaan para atasan, dan himpitan ekonomi
lupakan belati di belakang pinggang
pewakil benak kita melawan itu semua.

Di sana, kita menjadi anak manusia biasa
bebas, mukimkan sejuta gaduh yang nyaris busuk di dada
campur asap rokok, limbah knalpot, dan hawa sesak jakarta
ya di sana! di parkiran bawah,
kita adalah anak manusia, meski hanya sementara!

Desember 17, 2008 - Ditulis oleh aneze | Jelata | | & Komentar

& Komentar »

  1. hehehe, nongkrong2 di parkiran ni ye.
    btw, si saut bacain puisi jembutnya itu nes kemarin, loe sih pulang cepet2 bukannya nginep aja tempat gw.

    Komentar oleh Thomas Silvano | Desember 18, 2008 | Balas

  2. nezbro, gw baca ulang niy puisi loe yang ini, ada salah ketik tuh, “seemuran putih biru” kamsudnya “seumuran putih biru” kali ye, lagian nez, kenapa nggak pake istilah lain atau apa gitu yang bisa mewakili usia2 itu siapa tahu lebih ciamik lagi dapatnya dan ada beberapa kata yang mungkin agak meleset niy (kalo kata awak ya) tapi dapatlah yg mau disampaikan.., salam.

    Komentar oleh Thomas Silvano | Desember 19, 2008 | Balas

  3. emmm melesetnya gini nes, bukan kata2nya salah tapi ketika gw baca puisi ini sayang bgt kalo pemilihan kata-katanya nggak loe eksplorasi lagi, karena sebetulnya dari pilihan kata yang loe pakai disini masih banyak alternatif kata/frasa lain yang bisa dipakai, mungkin justru dengan tanpa kiasan malah lebih mengena.
    misalnya gini :

    “ketika tengah hari, waktu berhenti sejenak dari perjalanannya tadi pagi…”

    atau :

    “menepi sejenak dari rutinitas yang terus berlari”

    dll lah, karena puisi ini narasi, akan lebih kena kalo ditulis deskriptif (menjelaskan), contohnya puisi2nya Jokpin
    kalo patah2 agak2 kurang aduhai bro
    ya gitulah kalo gw lagi sotoy..

    salam

    puncakdewa

    Komentar oleh Thomas Silvano | Desember 19, 2008 | Balas


Tinggalkan komentar